ame268 - Everything is under control!

December 5, 2007

Gitu lo Pak Polisi..

Filed under: Mikir-mikir

Hari Minggu pagi (02 Dec) pukul 05.30 saya pergi ke rumah guru saya naik The Mio dengan mantan pacar. Ndak pakai helm lewat jalan raya. Eit.. ada pak polisi sudah ngetem di seberang sana. Hebat!. pagi-pagi sudah bekerja. Kita musti support. Jempol empat!

Saya yakin bila saya lewat di depannya pun tidak akan distop / ditilang, karena saat itu adalah rame-ramenya orang pergi ke sebuah pengajian umum dan cukup banyak pengendara tanpa helm yang juga berseliweran.

Tapi saya putuskan untuk menghindari lewat di depan pak polisi yang terlihat gagah itu. Saya lewat di jalan tikus yang tersedia untuk bisa sampai tujuan. Agak muter dikit sih, mungkin jadi lebih panjang 1 kilometer. Kenapa? … karena saya ingin menghormati pak polisi yang sedang bertugas. Mustinya dia harus memberhentikan dan menilang saya karena ndak pakai helm, tapi karena saya tahu dia tidak akan melakukan itu maka lebih baik saya tidak usah terlihat saja sekalian. Agar supaya sang pak polisi tidak keki, masak ada pelanggar dia diam saja. Saya kurang jelas siapa-siapa polisi yang ada di seberang sepagi itu, tapi biasanya yang bertugas di daerah situ adalah pak polisi tetangga saya yang baik, Pak Kasno, yang biasanya kalo saya muter dia dengan segera menyetopkan kendaraan seraya menyapa saya, saya juga menyapanya.

Karena adegan seperti itu cukup sering saya lihat. Ramai-ramainya operasi di jalan raya, semua pengendara motor di stop, ditanyai surat-surat… eh satu orang pengendara tanpa helm (yang berbaju motif daun hijau seperti tumbuhan) nyelonong dengan santainya mengabaikan para petugas yang telah berpenampilan penuh wibawa itu. Sekejab pak polisi jadi terlihat kurang berwibawa. Setelah si pengendara itu lewat, pak polisi segera terlihat berwibawa kembali.

Karena saya tidak ingin menjadi pengendara berbaju hijau itulah, maka saya putuskan untuk mengambil jalan alternatif untuk sampai ke tempat tujuan demi menghormati dan menjaga kewibawaan pak polisi.Gitu lo pak.

Kata Pak Polisi : “Makasih ya Mas…”, saya bilang, “.. oke, sama sama”

Diberikan Gratis … Bunga (seperti) Anturium

Filed under: Mikir-mikir

Heboh-hebohnya harga bunga Anturium yang mencapai ratusan juta bahkan milyaran masih selalu membuat saya terheran-heran sampai sekarang. Bila melihatnya saya selalu mengamati, bagian mana yang menyebabkan hargamu sebegitu mahal, hai bunga?… atau tepatnya sebenarnya daun, bukan bunga.

Yah, saya serahkan saja kepada para penggemarnya, penjual, pembeli, makelar dan para trend makernya –bila ada–, yaitu mereka yang entah sengaja atau tidak membombardir pasar bunga dengan membuat harganya menjadi selangit. Saya cukuplah cuma penonton saja. Bagi saya melihat keindahan tanaman dengan segala warna warni dan bentuknya sudah sebegitu membuat saya nyaman, sehingga dalam penglihatan saya bunga yang berharga ratusan juta itu sama saja dengan seorang sebuah bunga desa yang tumbuh liar pun di tepi jalan. Mungkin suatu hari saya akan mengerti mengapa bunga daun yang tidak istimewa apa-apa ini berharga senilai sebuah BMW.

Disamping rumah saya juga tumbuh bunga (seperti) Anturium atau Jemani atau Gelombang Cinta, bolehlah saya menyebutnya sama dengan sebutannya, karena bentuknya saya lihat kok hampir sama. Tidak paham apa nama sebenarnya (maaf-gaptek bunga). Lihat saja sendiri, kalau mau boleh ambil aja, malah bagus biar ada yang bersih-bersih, hehe..

 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer