ame268 - Everything is under control!

August 29, 2007

Untukmu para gadis cantik (atau yang merasa cantik)

Filed under: Mikir-mikir
Untuk kalian para gadis negeri Indonesia, lebih tepatnya usia 10 – 30 tahun, saya punya saran dan perngharapan buat kalian. Sengaja saya sebutkan batas usia tersebut karena ternyata semakin lama peradaban manusia ini semakin luar biasa. Dari segi perkembangan fisik manusia sekarang ini seorang anak “menjadi tumbuh lebih cepat besar dan lebih lambat tua” (paham kan?).
 Tebak kelas berapa mereka ini?

Disadari atau tidak, lihatlah sekeliling… bila sedang tidak  berseragam, kita sering salah menilai seorang gadis. Kita mengira sudah SMP, eh ternyata masih SD kelas 5, kita mengira sudah kuliah, eh ternyata masih SMA kelas satu.. ingat nggak lagu Karmila-nya Farid Harja almarhum…cuplikannya begini: “…kutuang minuman ke dalam gelas, baru  saat itu kutahu usiamu baru sebelas.. wo uwo Karmila…dst” Padahal saat lagu ini populer sekitar tahun 80-an, apalagi saat ini hampir 30 tahun sesudahnya, sungguh lebih dahsyat lagi dunia ini. Apalagi kalau dulu, secara perilaku masih sangat kentalnya budaya malu-malu, masih jelasnya perbedaan aktifitas antara golongan anak kecil dengan yang dewasa, tapi sekarang seorang “gadis SD” pun bisa (dan sudah umum) didaulat naik panggung dangdut dan bergoyang seksi tak beda dengan seniornya yang sama-sama menggoyang penonton dibawahnya. Yang cukup aneh kalau kita mau pikir, si papah atau mamah selalu mengantarkan si Inul kecil-nya ke tempat shownya dan dengan sabar dan waspada menungguinya mengawasi kalau-kalau ada yang kurang ajar atau usil mengganggu anaknya yang sedang show itu, sekaligus memantau perkembangan bakat si anak, barangkali goyangannya kurang luwes, desahannya kurang genit, lirikannya kurang miring, mimiknya terlalu jutek, atau cengkok nadanya kurang meliuk. Dulu saya ingat jelas di sekolah saya SMA kalau ada yang “ngecap” (terlihat bayangan bentuknya dari luar) tali BH nya rasanya sudah sangat malu, dia akan memakai kaos dalam rangkap yang cukup tebal supaya nggak ngecap tali BHnya. Namun sekarang justru ya ampun… berapa kali kita musti terpaksa melihat berbagai macam bayangan BH dibalik kaos tipis dan ketat (baik yang sedang berjalan santai maupun yang sedang dibonceng pacar/temannya naik motor) itupun masih ditambah bonus pusar atau bayangan celana dalam bagian belakang yang menyembul ketika mereka berjongkok atau dibonceng plus sebagian pantat atas yang berkali-kali dibetulkan karena berkali-kali terbuka dengan irama yang teratur… aduh, kasihanilah kami para lelaki. Sungguh berat… untuk tidak melirik.
 
Sementara yang sudah dewasa, usia 30 keatas, para ibu muda, tante, janda muda, ibu tua pun semakin berlomba memperlambat penuaannya. Makanya kita juga sering salah sangka, kita kira masih single eh ternyata udah punya anak 2. Ditutup lagi dengan balutan pakaian dan make-up ala ABG, lebih susah lagi kita menebaknya. Ketika kebetulan bertemu dengan seorang perempuan di mall kita berkenalan dengan manisnya, singkat kata ketika perbincangan mulai asik, kita akan coba-coba masuk area goda-goda, pikiran mulai merancang fantasi yang enggak-enggak… lima menit kemudian datanglah 2 anaknya rame-rame sambil bawa eskrim.. “Mamaaah!!.. adek udah habis eksrim duaaahh!”,  “Maaf ya mas, udahan dulu, saya pulang dulu… ni anak-anak saya, nakal sekali penginnya jalan-jalan melulu…(sama kayak saya – dalam hati)”
 
Lalu, sekarang kita lebih susah menyebut memilih kata “gadis” atau “perempuan” atau “wanita”. Gara-garanya ya karena itu tadi, ketika kita ketemu seorang wanita dijalan lalu kita ceritakan ke teman, dulu gampang kita bilang, “eh tadi aku ketemu sama anak perempuan di jalan, kasihan dia bawa tas besar lalu aku bantu..”, tapi sekarang lebih susah kita cerita, “eh tadi aku ketemu sama anak perempuan eh bukan dink, dia udah lumayan besar kok, udah gadis.. pokoknya aku ketemu cewek di jalan, kasihan dia bawa tas besar lalu aku bantu..”. Walhasil secara linguistikal juga terjadi pergeseran makna karena disesuaikan dengan keadaan yang ada. Untuk penyebutan gadis, perempuan, wanita yang notabene ada makna klasifikasi usia, sekarang cenderung disebut “cewek” begitu saja.
 
Sehingga intinya di rentang usia 10 – 30 tahun ini semakin lama perbedaan secara fisik akan semakin kabur.
 
Sekarang, untuk kalian para gadis atau cewek yang cantik, atau merasa cantik, atau yang lebih banyak menjadi cantik karena make up dan baju, dengarlah saya punya saran dan pengharapan.
Silahkan kalian menjadi cantik secara fisik, badan semakin tinggi, dada semakin membusung, rambut semakin mengkilat, kulit semakin mulus, tapi tolong jangan menjadi Ge-eR. Biasa aja.
 
Saya merasa sangat perlu menyinggung ini karena Ge-eR kalian sering tidak produktif dan tidak jelas juntrungnya. Gelombang budaya mempercantik diri ini memang luar biasa melanda kalian kaum cewek. Ujung-ujungnya kalau sudah cantik, kalian bersikap atraktif, menggoda, merasa jadi pusat perhatian dst. Insting binatang. Banyak dari kalian yang sangat yakin bahwa penampilan fisik yang seksi adalah senjata ampuh. Titik. Senjata ampuh untuk apa? Untuk menggoda cowok? Lalu? Kalo cowoknya sudah tergoda?… Atau untuk menjadi pusat perhatian? Lalu? Kalo semua sudah melotot memperhatikan?…
 
Bila masing-masing gadis ingin jadi pusat perhatian maka artinya semuanya menjadi bukan pusat perhatian.
 
Ke Ge-eR an kalian yang berlebihan sering menyengsarakan diri sendiri. Saking penginnya tampil cantik, biaya perawatan jadi melonjak, akhirnya menjadi semacam kecanduan narkoba, kalian memaksakan diri karenanya bahkan tidak sedikit dari kalian bersedia mengorbankan kehormatannya demi untuk mendapat jaminan biaya perawatan fisik yang tak terbatas.
 
Kami para lelaki sangat paham hal itu, yaitu bahwa insting wanita selalu menyukai dunia glamour. Namun ketika hal tersebut menjadi tidak terkontrol dan kalian sendiri larut tanpa makna maka inti esensi dari nilai kewanitaan kalian justru menjadi rendah di mata kami.
 
Saran saya begini, selain ‘menjadi cantik’ kalian harus baik hati. Tidak perlu menjadi salah tingkah untuk angkat sampah atau mendorong gerobak waktu kerja bakti. Tidak perlu mati-matian merapikan rambut ditengah tiupan angin. Tidak perlu sungkan tertawa bila memang ada yang lucu. Anak sekarang menyebutnya ‘jaim’ alias jaga image. Pada banyak situasi yang terjadi sekarang ini di Indonesia, sudah terlalu banyak jaim yang tidak pada tempatnya yang sebenarnya lebih tepat disebut ‘kesombongan sosial’ dan ‘individualis’.
 
Apa salahnya dengan menjadi cantik sambil menjual pisang goreng?
 
Bila kalian berkumpul, seringkali yang paling cantik menjadi ‘jaim’. Entah itu memang cantik betulan atau hanya merasa paling cantik. Kalian seolah berada pada satu adegan film dengan skenario yang tidak jelas karena semua merasa menjadi bintang utama. Sungguh sulit situasi seperti itu.
 
Barangkali kalian harus kadang-kadang berpikir dan berbudaya seperti sebuah penduduk negara (yang tidak harus saya sebutkan) dimana mereka tidak lagi rikuh dengah penampilan fisik mereka karena rata-rata mereka memang cantik. Dari seorang mbok jamu sampai top direktris mereka punya kecantikan fisik yang sama, sehingga mereka tidak jaim karena fisik. Mereka bisa lebih konsentrasi kepada kegiatan mereka masing-masing. Justru dengan terbiasa tidak rikuh secara fisik itu mereka bisa lebih menghormati dan humanis kepada sesamanya yang nyata-nyata mempunyai kekurangan fisik.
 
Justru dengan menjadi cantik (syukur-syukur kalau memang asli cantik) dan tak merasa cantik sendiri (beberapa orang menyebutnya ‘narsis’) maka kalian akan terlihat memang cantik, percayalah… survey membuktikan sejak jaman sebelum Nabi Adam.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer